bisnis online

Monday, April 8, 2013

Koperasi berbasis 'commonality'

First of all, kenapa harus koperasi? 

Koperasi adalah produk ekonomi modern yang diterima di semua kalangan. Meskipun pertama kali diperkenalkan di Inggris yang notabene "a western country", tidak ada sentimen yang menentang di sebagian besar komunitas di seluruh dunia. Terlebih lagi di Indonesia, koperasi sudah diakui sebagai lembaga ekonomi yang sudah leluasa bergerak di dalam berbagai bidang usaha termasuk keuangan. Meski begitu, ada satu tantangan yang harus dihadapi oleh penggiat ekonomi pedesaan ini, adalah mengikis stigma yang telanjur melekat bahwa koperasi identik dengan simpan pinjam dan menghasilkan profit semata-mata dari mengambil margin meminjamkan uang. Pinjaman masih akan menjadi salah satu komponen operasional koperasi pedesaan, tetapi pinjaman berbasis bagi hasil profit dan aktifitas usaha yang mnyertainya-lah yang membuat koperasi pedesaan nanti akan berbeda dari koperasi yang sekarang berjalan.

Bagaimana kondisi saat ini? 

IMHO, beberapa hal berikut menjadi latar belakang kenapa harus dilakukan re-definisi koperasi sebagai soko guru ekonomi di Indonesia.- koperasi, kalaupun masih ada lebih kepada lembaga simpan pinjam yang mengambil keuntungan dari mengembangkan dana dengan pengembalian jasa (gamblangnya: bunga pinjaman). Terlepas dari ancaman riba dalam ajaran Islam, menurut saya hanya mengandalkan pemasukan dari bunga akan berdampak destruktif bagi koperasi. Betul, itu yang paling simpel. Tetapi janji kemudahan inilah yang akan mematikan semangat usaha, mengurangi keberanian mengambil resiko dari perniagaan, dan menuntun kepada kemalasan. (Bayangkan dengan tidak melakukan apa-apa, profit sekian persen plus pokoknya akan diterima setiap bulan). Belum lagi dampak runtuhnya kepedulian terhadap sesama, dan sifat gotong royong. - peranan aktif koperasi untuk aggregating potensi ekonomi sangat kurang. Kondisi saat ini sangat mengarah ke ekonomi kapitalistis yang memusatkan akumulasi kekayaan pada individu-individu dengan tidak/kurang memberikan keuntungan kepada orang lain yang terlibat. Pola usaha bersama dalam koperasi akan memberikan kesempatan yang merata di antara semua anggota operasi.

Jadi bagaimana alternatif jalan keluanya?  

Dalam koperasi yang digagas ini. Usaha dikembangkan dengan 2 unit bisnis yang saling menunjang.

  • Unit pembiayaan. Yang membedakan dengan pola simpan pinjam yang sudah jamak dilakukan sekarang adalah bahwa pinjaman yang disetujui untuk dipinjamkan kepada anggota yang memerlukan akan disalurkan dalam bentuk barang yang dibutuhkan. Kemudian pola pengembalian diberikan dalam bentuk bagi hasil dari hasil usaha peminjam.Ilustrasi riil nya sebagai berikut:Pak Ahmad anggota koperasi pada musim ini akan menanam jagung. Untuk lahan yang dimilikinya dia membutuhkan 15kg bibit jagung, 50kg pupuk dan 2 galon insektisida. Semua barang itu senilai 7,5juta rupiah. Untuk memenuhi kebutuhan pak Ahmad tersebut, koperasi mengorganisir pengadaan melalui unit operasional, sehingga karena order pak Ahmad digabung dengan order anggotax yang lain, koperasi bisa memperoleh barang yang diperlukan pak Ahmad dengan harga beli 7,250juta. 250rb selisih pembelian tersebut dicatatkan sebagai keuntungan koperasi dari unit operasional. Setelah panen tiba, hasil panen pak Ahmad sebanyak 12ton disetor ke koperasi, untuk digabung dengan hasil panenan anggota yang lain. Di pasaran lokal, jika langsung dijual ke pengepul, panen pak Ahmad bisa dibeli dengan harga 31,2juta, atau kira-kira Rp2.600,- /kg. Tetapi karena koperasi memiliki stok jagung sebanyak 200ton, dan cukup ekonomis untuk mengangkut langsung ke pabrik pakan ternak, koperasi memperoleh harga jual 2.800,-/kg. dimana hasil panen pak Ahmad bisa memperoleh hasil penjualan dengan selisih 2,4 juta dibandingkan jika dijual ke pedagang lokal. Selisih tersebut, kembali, dimasukkan sebagai laba unit operasional koperasi.selanjutnya setelah dipotong pinjaman modal, sisa bersih sebesar 24 juta, dibagi sesuai proporsi koperasi vs anggota peminjam. Katakan 70:30 untuk pak Ahmad, laba sebesar Rp 16,8juta diterima pak Ahmad untuk pengerjaan lahan seluas 1hektar dalam waktu sekita 3,5bulan +/- 110 hari.Selanjutnya apakah keuntungan koperasi hanya sebesar 7,2juta? Tnggu dulu. Nlai 7,2 hanya hasil bersih bagi hasil. Sedangkan kalau digabung dengan profit unit operasional akan menghasilkan 17,05juta. Yang sepenuhnya dikembalikan ke koperasi sebagai laba.
  • Unit operasional.Kegiatana unit operasional ini berperan sebagai middle man antara anggota dengan dunia luar. Dimana jika anggota membutuhkan bibit, pupuk maupun obat-obatan pertanian, koperasi bertindak sebagai disributor produk yang bersangkutan Sebaliknya ketika anggota akan memasarkan produknya, unit operasional bertindak sebagai buyer produk dan sekaligus supplier bagi pembeli/ end user. 
Dengan cara semacam ini, ada beberapa yang bisa diperoleh oleh anggota, antara lain:

  • Kecilnya beban pinjaman anggota, Bahkan bisa dibilang tidak ada beban pinjaman. Selama proses produksi berlangsung, anggota peminjam tidak ada beban pengembalian pinaman sekaligus tidak ada beban bunga/jasa. 
  • Potensi memperoleh keuntungan dari SHU koperasi, yang notabene adalah bagian dari akumulasi bagi hasil yang diperoleh koperasi dari pinjaman anggota. Terlihat bahwa keuntungan berputar diantara anggota dimana semakin besar profit yang dihasilkan dalam proses produksi, dan selanjutnya di bagi antara peminjam dan koperasi pada unit pembiayaan, maka keuntungan yang diperoleh dari pembagian SHU akan meningkat. 
Bagi kopeasi secara organisasi memperoleh keuntungan antara lain:

  • Sebagai middle man, koperasi membangun jaringan dua arah. Yang pertama jaringan produksi yang terdiri dari anggotanya yang aktif melakukan kegiatan produksi, baik pertanian, peternakan maupun usaha produksi lainnya. Pengembangan koperasi bisa diarahkan bertahap sesuai dengan kesiapan skala produksi maupun ketersediaan dan penguasaan pasar. Misalnya dari contoh di atas pada pertanian jagung. Pada tahap awal koperasi hanya menerima jagung pipil dari petani dan selanjutnya meneruskan ke parik bahan pakan sebagai raw material.Jika kapasitas produksi anggota dinilai sudah konsisten dan jumlhnya memadai, maka tahapan selanjutnya dari proses tersebut adalah menghasilka bahan setengah jadi bagi pabrik pakan. Di satu sisi akan menguntunkan pabrik pakan dengan pengurangan proses produksi (pabrik tidak perlu mengolah bahan mentah, melainkan menerika bahan setengah jadi untuk langsun gmasuk di proses selanjutny). Peranan pabrik pengolah untuk melakukan transfer teknologi dan knowledge ke koperasi sangat vital. Dan pengembangan produksi bisa berglir ke produk yang lainnya dengan metode pendekatan yang serupa. Begitu seterusnys hingga koperasi berkembang dari waktu ke waktu.
  • Keuntungan yang kedua bagi koperasi adalah pengembangan jaringan horisontal. Koperasi akan menjadi motor dalam membangun kapasitas dengan berkolaborasi dengan koperasi-koperasi yang lain. Atau organisasi lain yang bergerak dalam bidang yang sama. Sehingga diperoleh multiplikasi kapasitas. Yang pada akhirnya akan meningkatkan daya tawar di hadapan buyer.


Siapa yang paling diuntungkan / dirugikan? 

Saya melihat pola kerjasama ini menguntungkan semua pihak. Ketika poses produksi mengalami kerugian sekalipun, karena kedua belah pihak (koperasi dan anggota) sama-sama menanggung beban kerugian. Anggota peminjam tidak perlu dibebani bunga atas hutang karena gagal panen. Yang bisa dilakukan adalah menanggung beban pinjaman dengan proporsi tertentu (bisa 50:50, atau komposisi lainnya tergantung AD/ART koperasi). Sedangkan jika terjadi kerugian karena gagal panen (tetap panen tetapi tidak menghasilkan banyak profit), kerugian ditanggung kedua belah pihak dengan proporsi yang sama.

Saturday, November 14, 2009

"Virus Porang" - Strategi Menjamin Pasokan

Permasalahan niaga porang yang mulai kritis dan mendesak untuk ditangani adalah, ketersediaan pasokan, baik secara jumlah maupun kontinuitas stock. Dari artikel di http://www.kapanlagi.com/h/0000181669.html, terungkap permintaan pasar luar negeri sebesar 104 ton baru bisa dipenuhi 24 ton, pada tahun 2007. Kalaupun tahun 2008 ini kapasitas sudah meningkat, rasanya tidak lebih dari 48ton (200% dari kapasitas tahun 2007), itupun baru mencukupi 46% permintaan dan dengan asumsi permintaan pasar tidak meningkat lagi. Selain artikel di atas, telepon/sms/email yang masuk, cukup membuktikan tingginya demand saat ini.

Mengingat musim panen hanya 3-4 bulan dalam satu tahun dengan kapasitas jauh di bawah permintaan, saya rasa sekaranglah waktunya untuk menyebarkan "virus porang". Tujuan ganda dari virus ini adalah, menjamin pasokan porang dengan harga yang logis (ingat, demand tinggi sementara supply kurang, bisa menciptakan harga semu, dan jika harga sudah tidak masuk akal, kompetitor dari China, Thailand dan India pasti dengan mudah mengisi pasar), yang kedua adalah - tentu saja - aspek sosial yaitu perekonomian petani sebagai penggarap dan pemilik lahan bisa meningkat.

Cara menyebarkan virus ini, tidak terlalu rumit. Di tahun pertama, gunakan seberapapun lahan yang anda miliki, asal memenuhi persyaratan tanam, belilah bibit secukupnya, dan tanamlah di lahan anda. Sambil menanam - ini yang paling penting dari penyebaran virus ini - jawab pertanyaan dari para petani tentang apa yang anda tanam, bagaimana potensi penjualannya, dan sebagainya, point utama yang harus disampaikan adalah harga lebih tinggi dari gaplek kering (sekarang ini harga gaplek terakhir adalah Rp 1.050/kg - sementara porang basah anda beli seharga Rp 1.250 pun anda sudah untung), dan pada musim mendatang anda bisa memberikan mereka bibit sekaligus membeli hasil panen mereka. Petani hanya perlu menyediakan lahan, pupuk kandang, menanam dan memanen porang.

Di musim depan, pastikan anda bisa mencukupi permintaan bibit, sehingga anda bisa memberikan bibit katak/bulbil hasil dari panenan anda sendiri kepada petani. (sementara anda sudah panen umbi dan buktikan kalau laku hasilnya laku dijual). Musim berikutnya, beli panenan mereka (berapapun ukuran umbi yang dihasilkan dari katak), sortir , yang cukup besar silahkan dirajang menjadi chips (tetapi biasanya usia 1 tahun belum cukup besar), yang masih kecil siap untuk bibit umbi. Pada saat ini, katak/bulbil dari petani tidak perlu anda beli, karena katak tersebut yang bisa mereka gunakan untuk bibit, tanpa anda beri lagi.

Sedangkan umbi kecil dari petani pertama, anda berikan kepada petani lain, gratis, untuk ditanam di lahan mereka, dengan syarat harus dijual kembali kepada anga. Sementara petani yang pertama tadi sudah memiliki katak untuk ditanam.

Begitu seterusnya. Dengan metoda bibit bergulir semacam ini, paling tidak anda sudah menularkan "Virus Porang" kepada para petani di daerah anda. Dan mulai akhir tahun kedua, Insya Allah, pasokan porang anda sudah cukup banyak,ajeg dan terus berkembang melebihi kapastias lahan yang anda miliki sendiri.