bisnis online

Monday, April 29, 2013

Dan Porang Pun Mulai bersemi..

Untuk memerangi kemiskinan, memang perlu kepedulian, terobosan, power (kekuasaan), dan DUIT. Setelah budidaya porang berjalan secara 'underground' di sentra-sentra kecil di sekitar hutan jati, kini BUMN (baca  PERHUTANI) melakukan terobosan dengan meluaskan lahan garapan (dengan melanjutkan pogram kemitraan dan kredit lunak), memperbesar skala produksi (menambah jumlah dan kapasitas pabrik), dan memperluas akses pasar. Seperti yang dituturkan sendiri oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Seneng juga, ketika tulisan-tulisan saya beberapa tahun yang lalu, bisa menginspirasi teman-teman di internet - yang saya tidak pernah kenal sebelumnya - untuk beraksi menerabas gelapnya hutan untuk berburu porang.
Salut untuk mas Awanbiru, pelaut yang mendarat di hutan demi porang. :)

Semakin menjadi bukti bahwa porang bukan komoditas 'ecek-ecek'.

Thursday, April 18, 2013

Social business - ketika akumulasi kekayaan bukan lagi tujuan utama.

Sebuah reportase inspiratif pengembangan konsep Grameen Bank di Jepang. Dengan ide yang serupa, dan tentunya disesuaikan dengan karakter pedesaan Indonesia, saya menulis tentang lembaga keuangan kerakyatan di blog microfinance ini. Monggo ditelusuri..






Japan getting fond of social business


The social business concept introduced by Nobel laureate Dr Muhammad Yunus continues to receive support in Japan. The Japanese believe the model can solve various social problems, including poverty and environmental issues.
Since the declaration of Fukuoka city in Japan to be a social business city, academic institutions have seen that the model not only helps developing countries, but also developed countries like Japan. The social business city promotes zero dividend businesses to solve social problems in the city and throughout Asia.
Inspired by Yunus, Kyushu University set up an academic centre — Yunus and Shiiki Social Business Research Centre — in October 2011 to study, research, and promote social business in Japan and all over the world.
The centre aims to produce skilled social architects, build partnerships with related organisations, create replicable social business models to combat global issues such as poverty, health, environment, energy, education and natural disaster crises.  Prominent businessman Shiiki of the Fukuoka city funds this centre.
An agreement was signed between Kyushu University and Grameen Communications to promote relations and carry out collaborative research to solve global issues by using Grameen’s strength in serving the masses and the Japanese strength in technology.
Prof Masaharu Okada, executive director of the Yunus and Shiiki Social Business Research Centre, said he was impressed by Yunus’ personality and the wonderful social business innovation. Prof Okada engages himself with the university projects with the Grameen family and began working with Dr Yunus in 2008. He joined as executive director of Yunus Centre and Grameen Creative Lab at Kyushu University.
Students of Kyushu and many other universities in Japan are now encouraged to do research on social businesses, Prof Okada said in a recent interview.


Selengkapnya di sini

Thursday, April 11, 2013

Faktor Pengungkit (Leveraging) bernama ..GOTONG ROYONG

Satu budaya yang (kabarnya) semakin hilang diantara masyarakat Indonesia, yaitu semangat bergotong royong. Jangan diukur dari jumlah kehadiran dalam kegiatan kerja bakti bebersih kampung, atau ronda malam. (betul intensitas ke arah sana semakin kurang, tetapi bukan itu poin saya). Tetapi coba dilihat dari kacamata istilah bule: Empathy (dijamin ejaan nya bener, saya sudah konsul sama google translate :p). Menurut kamus, empathy merupakan kemampuan untuk memahami dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Nah, gagasan koperasi pedesaan ini adalah untuk mengkonversi empati menjadi uang.. lho bagaimana bisa? Inilah faktor pengungkit yang akan kita bahas lebih lanjut..

BERsambuNG....(ngetik thesis dulu... ditunggu supervisor he he..)


Monday, April 8, 2013

Koperasi berbasis 'commonality'

First of all, kenapa harus koperasi? 

Koperasi adalah produk ekonomi modern yang diterima di semua kalangan. Meskipun pertama kali diperkenalkan di Inggris yang notabene "a western country", tidak ada sentimen yang menentang di sebagian besar komunitas di seluruh dunia. Terlebih lagi di Indonesia, koperasi sudah diakui sebagai lembaga ekonomi yang sudah leluasa bergerak di dalam berbagai bidang usaha termasuk keuangan. Meski begitu, ada satu tantangan yang harus dihadapi oleh penggiat ekonomi pedesaan ini, adalah mengikis stigma yang telanjur melekat bahwa koperasi identik dengan simpan pinjam dan menghasilkan profit semata-mata dari mengambil margin meminjamkan uang. Pinjaman masih akan menjadi salah satu komponen operasional koperasi pedesaan, tetapi pinjaman berbasis bagi hasil profit dan aktifitas usaha yang mnyertainya-lah yang membuat koperasi pedesaan nanti akan berbeda dari koperasi yang sekarang berjalan.

Bagaimana kondisi saat ini? 

IMHO, beberapa hal berikut menjadi latar belakang kenapa harus dilakukan re-definisi koperasi sebagai soko guru ekonomi di Indonesia.- koperasi, kalaupun masih ada lebih kepada lembaga simpan pinjam yang mengambil keuntungan dari mengembangkan dana dengan pengembalian jasa (gamblangnya: bunga pinjaman). Terlepas dari ancaman riba dalam ajaran Islam, menurut saya hanya mengandalkan pemasukan dari bunga akan berdampak destruktif bagi koperasi. Betul, itu yang paling simpel. Tetapi janji kemudahan inilah yang akan mematikan semangat usaha, mengurangi keberanian mengambil resiko dari perniagaan, dan menuntun kepada kemalasan. (Bayangkan dengan tidak melakukan apa-apa, profit sekian persen plus pokoknya akan diterima setiap bulan). Belum lagi dampak runtuhnya kepedulian terhadap sesama, dan sifat gotong royong. - peranan aktif koperasi untuk aggregating potensi ekonomi sangat kurang. Kondisi saat ini sangat mengarah ke ekonomi kapitalistis yang memusatkan akumulasi kekayaan pada individu-individu dengan tidak/kurang memberikan keuntungan kepada orang lain yang terlibat. Pola usaha bersama dalam koperasi akan memberikan kesempatan yang merata di antara semua anggota operasi.

Jadi bagaimana alternatif jalan keluanya?  

Dalam koperasi yang digagas ini. Usaha dikembangkan dengan 2 unit bisnis yang saling menunjang.

  • Unit pembiayaan. Yang membedakan dengan pola simpan pinjam yang sudah jamak dilakukan sekarang adalah bahwa pinjaman yang disetujui untuk dipinjamkan kepada anggota yang memerlukan akan disalurkan dalam bentuk barang yang dibutuhkan. Kemudian pola pengembalian diberikan dalam bentuk bagi hasil dari hasil usaha peminjam.Ilustrasi riil nya sebagai berikut:Pak Ahmad anggota koperasi pada musim ini akan menanam jagung. Untuk lahan yang dimilikinya dia membutuhkan 15kg bibit jagung, 50kg pupuk dan 2 galon insektisida. Semua barang itu senilai 7,5juta rupiah. Untuk memenuhi kebutuhan pak Ahmad tersebut, koperasi mengorganisir pengadaan melalui unit operasional, sehingga karena order pak Ahmad digabung dengan order anggotax yang lain, koperasi bisa memperoleh barang yang diperlukan pak Ahmad dengan harga beli 7,250juta. 250rb selisih pembelian tersebut dicatatkan sebagai keuntungan koperasi dari unit operasional. Setelah panen tiba, hasil panen pak Ahmad sebanyak 12ton disetor ke koperasi, untuk digabung dengan hasil panenan anggota yang lain. Di pasaran lokal, jika langsung dijual ke pengepul, panen pak Ahmad bisa dibeli dengan harga 31,2juta, atau kira-kira Rp2.600,- /kg. Tetapi karena koperasi memiliki stok jagung sebanyak 200ton, dan cukup ekonomis untuk mengangkut langsung ke pabrik pakan ternak, koperasi memperoleh harga jual 2.800,-/kg. dimana hasil panen pak Ahmad bisa memperoleh hasil penjualan dengan selisih 2,4 juta dibandingkan jika dijual ke pedagang lokal. Selisih tersebut, kembali, dimasukkan sebagai laba unit operasional koperasi.selanjutnya setelah dipotong pinjaman modal, sisa bersih sebesar 24 juta, dibagi sesuai proporsi koperasi vs anggota peminjam. Katakan 70:30 untuk pak Ahmad, laba sebesar Rp 16,8juta diterima pak Ahmad untuk pengerjaan lahan seluas 1hektar dalam waktu sekita 3,5bulan +/- 110 hari.Selanjutnya apakah keuntungan koperasi hanya sebesar 7,2juta? Tnggu dulu. Nlai 7,2 hanya hasil bersih bagi hasil. Sedangkan kalau digabung dengan profit unit operasional akan menghasilkan 17,05juta. Yang sepenuhnya dikembalikan ke koperasi sebagai laba.
  • Unit operasional.Kegiatana unit operasional ini berperan sebagai middle man antara anggota dengan dunia luar. Dimana jika anggota membutuhkan bibit, pupuk maupun obat-obatan pertanian, koperasi bertindak sebagai disributor produk yang bersangkutan Sebaliknya ketika anggota akan memasarkan produknya, unit operasional bertindak sebagai buyer produk dan sekaligus supplier bagi pembeli/ end user. 
Dengan cara semacam ini, ada beberapa yang bisa diperoleh oleh anggota, antara lain:

  • Kecilnya beban pinjaman anggota, Bahkan bisa dibilang tidak ada beban pinjaman. Selama proses produksi berlangsung, anggota peminjam tidak ada beban pengembalian pinaman sekaligus tidak ada beban bunga/jasa. 
  • Potensi memperoleh keuntungan dari SHU koperasi, yang notabene adalah bagian dari akumulasi bagi hasil yang diperoleh koperasi dari pinjaman anggota. Terlihat bahwa keuntungan berputar diantara anggota dimana semakin besar profit yang dihasilkan dalam proses produksi, dan selanjutnya di bagi antara peminjam dan koperasi pada unit pembiayaan, maka keuntungan yang diperoleh dari pembagian SHU akan meningkat. 
Bagi kopeasi secara organisasi memperoleh keuntungan antara lain:

  • Sebagai middle man, koperasi membangun jaringan dua arah. Yang pertama jaringan produksi yang terdiri dari anggotanya yang aktif melakukan kegiatan produksi, baik pertanian, peternakan maupun usaha produksi lainnya. Pengembangan koperasi bisa diarahkan bertahap sesuai dengan kesiapan skala produksi maupun ketersediaan dan penguasaan pasar. Misalnya dari contoh di atas pada pertanian jagung. Pada tahap awal koperasi hanya menerima jagung pipil dari petani dan selanjutnya meneruskan ke parik bahan pakan sebagai raw material.Jika kapasitas produksi anggota dinilai sudah konsisten dan jumlhnya memadai, maka tahapan selanjutnya dari proses tersebut adalah menghasilka bahan setengah jadi bagi pabrik pakan. Di satu sisi akan menguntunkan pabrik pakan dengan pengurangan proses produksi (pabrik tidak perlu mengolah bahan mentah, melainkan menerika bahan setengah jadi untuk langsun gmasuk di proses selanjutny). Peranan pabrik pengolah untuk melakukan transfer teknologi dan knowledge ke koperasi sangat vital. Dan pengembangan produksi bisa berglir ke produk yang lainnya dengan metode pendekatan yang serupa. Begitu seterusnys hingga koperasi berkembang dari waktu ke waktu.
  • Keuntungan yang kedua bagi koperasi adalah pengembangan jaringan horisontal. Koperasi akan menjadi motor dalam membangun kapasitas dengan berkolaborasi dengan koperasi-koperasi yang lain. Atau organisasi lain yang bergerak dalam bidang yang sama. Sehingga diperoleh multiplikasi kapasitas. Yang pada akhirnya akan meningkatkan daya tawar di hadapan buyer.


Siapa yang paling diuntungkan / dirugikan? 

Saya melihat pola kerjasama ini menguntungkan semua pihak. Ketika poses produksi mengalami kerugian sekalipun, karena kedua belah pihak (koperasi dan anggota) sama-sama menanggung beban kerugian. Anggota peminjam tidak perlu dibebani bunga atas hutang karena gagal panen. Yang bisa dilakukan adalah menanggung beban pinjaman dengan proporsi tertentu (bisa 50:50, atau komposisi lainnya tergantung AD/ART koperasi). Sedangkan jika terjadi kerugian karena gagal panen (tetap panen tetapi tidak menghasilkan banyak profit), kerugian ditanggung kedua belah pihak dengan proporsi yang sama.

Saturday, November 14, 2009

"Virus Porang" - Strategi Menjamin Pasokan

Permasalahan niaga porang yang mulai kritis dan mendesak untuk ditangani adalah, ketersediaan pasokan, baik secara jumlah maupun kontinuitas stock. Dari artikel di http://www.kapanlagi.com/h/0000181669.html, terungkap permintaan pasar luar negeri sebesar 104 ton baru bisa dipenuhi 24 ton, pada tahun 2007. Kalaupun tahun 2008 ini kapasitas sudah meningkat, rasanya tidak lebih dari 48ton (200% dari kapasitas tahun 2007), itupun baru mencukupi 46% permintaan dan dengan asumsi permintaan pasar tidak meningkat lagi. Selain artikel di atas, telepon/sms/email yang masuk, cukup membuktikan tingginya demand saat ini.

Mengingat musim panen hanya 3-4 bulan dalam satu tahun dengan kapasitas jauh di bawah permintaan, saya rasa sekaranglah waktunya untuk menyebarkan "virus porang". Tujuan ganda dari virus ini adalah, menjamin pasokan porang dengan harga yang logis (ingat, demand tinggi sementara supply kurang, bisa menciptakan harga semu, dan jika harga sudah tidak masuk akal, kompetitor dari China, Thailand dan India pasti dengan mudah mengisi pasar), yang kedua adalah - tentu saja - aspek sosial yaitu perekonomian petani sebagai penggarap dan pemilik lahan bisa meningkat.

Cara menyebarkan virus ini, tidak terlalu rumit. Di tahun pertama, gunakan seberapapun lahan yang anda miliki, asal memenuhi persyaratan tanam, belilah bibit secukupnya, dan tanamlah di lahan anda. Sambil menanam - ini yang paling penting dari penyebaran virus ini - jawab pertanyaan dari para petani tentang apa yang anda tanam, bagaimana potensi penjualannya, dan sebagainya, point utama yang harus disampaikan adalah harga lebih tinggi dari gaplek kering (sekarang ini harga gaplek terakhir adalah Rp 1.050/kg - sementara porang basah anda beli seharga Rp 1.250 pun anda sudah untung), dan pada musim mendatang anda bisa memberikan mereka bibit sekaligus membeli hasil panen mereka. Petani hanya perlu menyediakan lahan, pupuk kandang, menanam dan memanen porang.

Di musim depan, pastikan anda bisa mencukupi permintaan bibit, sehingga anda bisa memberikan bibit katak/bulbil hasil dari panenan anda sendiri kepada petani. (sementara anda sudah panen umbi dan buktikan kalau laku hasilnya laku dijual). Musim berikutnya, beli panenan mereka (berapapun ukuran umbi yang dihasilkan dari katak), sortir , yang cukup besar silahkan dirajang menjadi chips (tetapi biasanya usia 1 tahun belum cukup besar), yang masih kecil siap untuk bibit umbi. Pada saat ini, katak/bulbil dari petani tidak perlu anda beli, karena katak tersebut yang bisa mereka gunakan untuk bibit, tanpa anda beri lagi.

Sedangkan umbi kecil dari petani pertama, anda berikan kepada petani lain, gratis, untuk ditanam di lahan mereka, dengan syarat harus dijual kembali kepada anga. Sementara petani yang pertama tadi sudah memiliki katak untuk ditanam.

Begitu seterusnya. Dengan metoda bibit bergulir semacam ini, paling tidak anda sudah menularkan "Virus Porang" kepada para petani di daerah anda. Dan mulai akhir tahun kedua, Insya Allah, pasokan porang anda sudah cukup banyak,ajeg dan terus berkembang melebihi kapastias lahan yang anda miliki sendiri.

Tuesday, June 2, 2009

Alat Pengering Murah Berbiaya Rendah

Hingga awal bulan Juni ini, hujan masih terus turun setiap hari. Kalaupun tidak turun hujan, sering terjadi mendung menggantung sepanjang hari. Beberapa teman yang mengolah chips porang dengan mengandalkan sinar matahari mengeluhkan produktifitas dan kualitas yang turun.
Sebenarnya masalah dengan hujan bukan hanya dihadapi oleh prosesor chips porang saja, curah hujan yang tinggi di musim yang seharusnya sudah kemarau ini, juga akan menyulitkan pemanenan dan mengurangi daya simpan umbi. Baik umbi untuk produksi maupun umbi yang disiapkan untuk bibit.

Melihat kondisi ini, perlu dipikirkan implementasi alat pengering dengan investasi murah, biaya operasional rendah, dan bisa berdaya guna mengatasi halangan alam (hujan, mendung, malam hari). Apalagi karakter dari irisan porang sendiri, setelah umbi diiris, jika tidak segera dijemur terpisah bisa lengket satu sama lain. Dan ujung-ujungnya muncul cendawan keputih-putihan jika tidak segera kering.

Setelah berselancar di internet pada keyword teknologi tepat guna, beberapa hasil riset alat pengering terlihat sangat menarik. Karena , misalnya pengering tenaga surya IAT meski tetap menggunakan matahari (tentu saja) sebagai generator panas, tetapi memerangkap panas yang dihasilkan oleh kolektor (berbahan seng gelombang) di dalam ruang pengeringan. Sehingga seluruh ruang tertutup di dalam pengering memiliki tingkat panas yang sama (disebutkan mencapai rata-rata 50 derajat celcius).
Ada lagi pengering yang menggunakan teknik rumah kaca untuk memerangkap panas matahari. Dengan ruangan semi cone berdinding kaca yang bisa diputar mengikuti sinar matahari, matahari langsung bisa menyinari benda yang dikeringkan pada rak-rak bertingkat, dan udara panas tidak serta merta terbuang begitu saja, tetapi berputar-putar di dalam ruangan secara merata. untuk membuang uap air yang berasal dari penguapan, digunakan exhauster yang berputar di bagian atas. Menariknya pada alat ini dilengkapi dengan mekanisme pemanasan dengan bahan bakar biomass (ranting, kayu, sampah organik atau kotoran binatang), jadi bisa berdaya guna jika diperlukan untuk pengeringan tanpa henti di malam hari. Atau jika cuaca mendung dan hujan sekalipun.

Dari semua alat di atas, yang paling menarik adalah dengan mesin pengering berbahan bakar arang / kayu. Alat ini tidak memerlukan space terlalu luas, hanya sepersekian dari luasan lahan yang diperlukan jika mengeringkan dengan panas matahari langsung. Dengan alat pengering, yang jelas, kontinyuitas produksi bisa dijamin, tanpa terganggu cuaca, hasil pengeringan pasti lebih bersih karena terlindung dari debu dan kotoran tanah lain, kapasitas pengukuran bisa terukur dengan pasti.

Jadi, bisa dicoba..

Monday, April 20, 2009

Menghasilkan chips berkualitas

Mengolah umbi porang menjadi chips memiliki tantangan tersendiri. Meskipun kadang kita temui requirement yang berbeda dari satu buyer ke buyer yang lain, terutama dalam standard ketebalan dan ukuran umbi yang di proses. Ada buyer yang saya temui menginginkan chips dengan ketebalan 1/5 cm ke atas, ada yang tipis-tipis 2 - 3 mm, ada buyer yang mensyaratkan umbi yang dirajang berukuran minimal 15 cm, ada juga yang ukuran berapapun bisa dirajang. Meski perbedaan requirement di atas, semuanya mensyaratkan hal yang sama : PUTIH dan BERSIH !!.
(tapi ingat ini bukan iklan cream kecantikan lho ya... )

Berikut ini adalah beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk menjamin kualitas produk.
1. Pastikan umbi sehat, bersih, dan tidak bercendawan. Jika umbi anda sudah telanjur bercendawan, cuci bersih dengan air untuk menghilangkan bagian-bagian yang sudah rusak tersebut. Pencucian juga bisa untuk memastikan tanah dan kotoran-kotoran lain yang menempel ke umbi hilang.

2. Gunakan pisau yang tajam dan cukup kaku sehingga tidak melengkung ketika umbi dipotong. Terdapat berbagai tipe alat perajang yang digunakan baik yang seperti ketam (pisau bergerak - umbi diam) atau sebaliknya pisau diam umbi digerakkan. Secara prinsip tidak ada masalah, hanya ketika pisau tidak cukup tajam atau pisau terlalu tipis sehingga melengkung ketika mengiris, ada kemungkinan menyebabkan ketebalan irisan tidak sama. Ketebalan irisan yang tidak seragam akan menambah proses sortir sehingga produksi akan sedikit terhambat.

3. Pastikan digunakan alas yang bersih. Pada tulisan yang lalu saya sebutkan penggunaan widhig (anyaman bambu tebal) dalam penjemuran, selain ini bisa saja irisan langsung dijemur di lantai semen, tentunya dengan catatan lantai sudah dibersihkan dari kotoran dan tanah.

4. Ketebalan irisan akan menentukan berapa lama (hari) irisan harus dijemur. Jadi jika pada malam hari irisan masih belum kering, bisa digunakan terpal plastik untuk menutupi irisan, sehingga tidak terkena embun. Hal ini bisa juga diterapkan pada waktu gerimis atau turun hujan.

Nah selamat berproduksi. Have a nice business !!!

Monday, March 30, 2009

Menyiapkan panenan Porang

Semakin mendekati masa panen - meski di beberapa daerah pengepul sudah berlomba-lomba berburu porang di hutan-hutan, karena prinsipnya siapa cepat yang dapat - bagi para petani yang sudah membudidayakan porang secara intensif, semakin terbayang gemerincing rupiah yang bisa diperoleh. Dengan budidaya, margin yang bisa diperoleh semakin besar, dibandingkan dengan jika hanya mengumpulkan tanaman liar di hutan, karena siklus budidaya yang intensif dengan komposisi lahan produksi dan lahan bibit bisa menyebabkan biaya nol untuk pembelian bibit. Selain itu, budidaya memiliki kelebihan dibandingkan dengan berburu di hutan yaitu konsistensi ukuran dan kontinuitas panen yang bisa di jaga. Dengan budidaya, ukuran umbi hasil panen bisa dipilih dengan hanya memanen umbi yang berusia tiga tahun atau lebih atau minimal memiliki berat 1.5 kg.

Sebagai persiapan panen, untuk menghasilkan umbi berkualitas, utuh, bersih tidak berjamur terdapat beberapa hal yang mesti diperhatikan.

1. Pada saat menggali tanah untuk mengambil umbi, harus diperkirakan jarak yang optimal dari batang sehingga cangkul / alat penggali tidak sampai menyebabkan umbi luka atau bahkan terbelah.

2. Tiriskan umbi yang masih basah, kalau tanah cukup kering atau gembur, tanah yang membungkus umbi bisa langsung di buang dengan tangan. Sedangkan jika tanah yang menempel umbi terlalu becek, perlu di jemur. Tanah yang kering bisa dengan mudah dikeringkan.

3. Letakkan umbi panenan di tempat yang terbuka, teduh, dan tidak terkena air hujan atau air yang lain secara langsung. Jangan sampai ada air yang tergenang mengenai umbi yang sudah kering tersebut.

4. Jangan simpan hasil panen di dalam karung plastik atau di atas karung plastik. Panas yang di timbulkan karena sentuhan dengan karung plastik, bisa menyebabkan umbi gerah dan busuk.

Wednesday, February 25, 2009

Paket Investasi - Menyelamatkan Hutan dengan Solusi 2

Sambungan dari Bagian 1

Sebagian besar program penghijauan dilakukan tanpa ada solusi yang ditawarkan sebagai pengganti hilangnya penghasilan dari mengolah lahan di sabuk hijau. Solusi yang ditawarkan ini menjadi penting ketika terlihat bahwa sebagian besar perusakan hutan di sabuk hijau dengan alasan memenuhi kebutuhan perut dan kebutuhan jangka menengah, bukan dalam ide untuk memperkaya diri sebagaimana yang dilakukan para pembalak liar.


Menawarkan solusi ekonomi kepada warga pengolah, juga dengan tujuan membangun ownership mereka secara bersama. Pola yang bisa dilakukan adalah menyerahkan pengelolaan lahan kepada kelompok tani di sekitar DAS, mulai dari penanaman, perawatan, hingga dalam mengolah dan memanen hasil tanaman. Sehingga jika ada pelanggaran yang dilakukan oleh anggota kelompok, sanksi yang diberikan pun bersifat sosial, bukan dengan pendekatan hukum atau kekerasan oleh aparat.

Memberikan alternatif solusi dalam penghijauan lahan DAS memang tidak mudah. Terutama dalam memilih pohon tegakan utama yang akan memberikan nilai ekonomis tanpa perlu peremajaan sesuai dengan kondisi tanah di DAS. Misalnya alternatif yang bisa adalah pohon kapuk Togo B yang pada usia 10 tahun sudah memiliki rentangan daun hingga limabelas meter. Selain itu buah kapuknya sendiri memiliki nilai jual. Alternatif lain adalah tanaman Jabon (Anthocepalus Cadamba), tanaman keras asli dari India, mampu mencapai pokok setinggi 12 meter dalam waktu 6 tahun, dengan diameter batang mencapai 50 cm.

Pertimbangan yang sama perlu dilakukan pada penentuan komoditas yang bisa digunakan sebagai tanaman sela diantara tanaman tegakan utama. Mengingat tidak banyak tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan cocok ditanam di bawah tegakan pohon. Untuk itu bisa dilakukan pola tanam sesuai dengan usia tanaman tegakan.

Tahun pertama dan kedua, ketika naungan masih belum begitu rapat, di antara pohon tegakan masih bisa ditanami jagung, palawija dan singkong. Tanaman ini masih tidak asing bagi petani, sehingga tidak diperlukan treatment apapun.

Pada tahun ketiga, dan seterusnya, ketika naungan daun semakin rapat, sinar matahari tidak cukup untuk bisa menembus rapatnya daun tegakan. Pada saat inilah bisa diperkenalkan tanaman Porang (Amorphophallus Onchophillus / Muelleri Sp) sebagai tanaman sela. Tanaman ini sekeluarga dengan tanaman serupa yang sudah lebih dulu dikenal dan dimanfaatkan warga sebagai bahan makanan pokok alternatif, yaitu suweg.

Karakteristik yang khas dari Porang adalah kemampuannya untuk hidup di lahan dengan sinar matahari kurang dari 50%, ciri khas lain adalah umbinya sangat gatal jika hanya direbus biasa karenanya tidak bisa langsung dikonsumsi. Tanaman ini sudah dikenal sebagai komoditi ekspor ke Jepang, Taiwan, Korea dan negara-negara lain yang memiliki budaya serupa, sebagai bahan makanan khas, yaitu Konnyaku. Karena pada dasarnya tumbuh di hutan-hutan, tanaman ini tidak memerlukan perawatan yang intensif, hanya jika diperlukan bisa dilakukan penyiangan dan pemupukan seperlunya dengan pupuk kandang.

Di Jawa Timur sudah dilakukan budidaya secara intensif, sebagai inisiatif Perhutani dalam merangkul warga sekitar hutan secara bersama-sama menyelamatkan dan mengelola hutan melalui wadah LMDH (Lembaga Masyarakat Dekat Hutan). Harga keripik porang kering yang mencapai Rp 13.000,- /kg, sangat menggiurkan, jika dibandingkan dengan gaplek singkong yang hanya berkisar Rp 2.000 /kg. Dari satu hektar lahan bisa dihasilkan rata-rata 5 ton keripik Porang.

Tiga hal yang sangat perlu diperhatikan agar program penghijauan dengan pola ini bisa lebih cepat terlihat hasilnya adalah, pertama, perlu diperhatikan jarak tanam, yaitu antar pohon minimal 5 meter. Sehingga sejak tahun kedua naungan daun sudah mencapai kerapatan minimal 60%, dimana kondisi ini cocok untuk digunakan membudidayakan Porang.


Kedua, sejak tahun pertama, sangat penting untuk melakukan percontohan budidaya porang di lahan lain, dalam lingkungan kelompok tani pengelola DAS tersebut. Yaitu disamping untuk mengenalkan pola budidaya Porang sebagai tanaman baru, mengenalkan metoda budidaya dan pengolahan pasca panen, juga untuk meyakinkan petani bahwa komoditas tersebut benar-benar bisa laku sesuai dengan harga yang diinformasikan.

Ketiga, secara alamiah Porang baru bisa dipanen pada tahun ketiga yaitu ketika berat satuan umbi mencapai 1,5 – 2 kg, karena itu sangat penting untuk dipikirkan pengadaan bibit yang bisa langsung dipanen sejak tahun pertama, yaitu bibit berupa umbi seberat 3 – 4 ons.

Rasanya hal-hal tersebut di atas bisa secara komprehensif menjawab permasalahan lingkaran setan program penghijauan dan konservasi lahan, khususnya di DAS di seluruh Indonesia. Dan meskipun di atas kertas terlihat sebagai hal yang sederhana, kenyataan di lapangan tetap memerlukan komitmen dari seluruh stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan DAS, dan semua pihak lain yang peduli pada kelestarian ekologi.

cbudiyanto@0209
Artikel disiapkan untuk media
Lihat Bagian 1

Paket Investasi - Menyelamatkan Hutan dengan Solusi 1

Semua sudah mahfum, bahwa kerusakan DAS Bengawan Solo terutama di hulu sungai sudah pada taraf sangat mengkhawatirkan. Sabuk hijau di sekitar aliran sungai yang merupakan daerah tangkapan hujan dan sekaligus penahan tanah dari erosi karena air hujan, sudah berubah menjadi lahan pertanian yang didominasi oleh tanaman semusim.


Tim Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 mencatat peringkat pertama vegetasi yang menutupi subsistem sekitar sungai adalah singkong. Maka sudah tepat jika Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kamis (3/1/2008), akhirnya mengemukakan niatnya mengambil langkah fundamental penyelamatan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo. (Kompas, 8 Januari 2008)

Namun perlu dicermati bahwa program penghijauan bukan sekali ini saja dilakukan. Sudah banyak organisasi non pemerintah atau pemerintah sendiri yang memberikan bibit tanaman kepada warga di sekitar DAS Bengawan Solo dalam program reboisasi dengan tujuan menghijaukan kembali daerah di kanan-kiri sungai yang sudah berubah fungsi. Bahkan hutan sabuk hijau di sekitar hulu sungai Bengawan Solo, sebelum aliran sungai masuk ke kawasan Waduk Gajah Mungkur, adalah bukti bahwa pemerintah telah merencanakan peruntukan lahan sebagai langkah konservasi Bengawan Solo. Dimana sekian ratus meter dari aliran sungai adalah kawasan hutan lindung dengan tanaman keras seperti akasia, mahoni dan sengon. Hingga akhir tahun 80an hutan sabuk hijau tersebut masih cukup lebat, menjadi habitat burung liar, dan mampu menampung air hujan sebagai air tanah. Di dalam kawasan hutan lindung tersebut masih bisa ditemuai aliran kali kecil dengan airnya yang bening didiami ikan air tawar.

Fakta kerusakan hutan lindung pada sabuk hijau DAS Bengawan Solo, dengan segala permasalahannya semestinya dijadikan pelajaran dalam mengelola program penghijauan secara efektif. Harus dicermati masalah sosial dan ekonomi yang melatar belakangi kondisi tersebut, diantaranya sebagai berikut :


1. Kondisi perekonomian petani penggarap lahan DAS rata-rata kurang baik dan sebagian besar berasal dari keluarga miskin. Lahan yang mereka miliki rata-rata lahan tadah hujan yang hanya bisa ditanami palawija pada musim hujan dan setelahnya ditanami singkong dengan hasil yang minim. Mengolah lahan pasang surut di bantaran sungai adalah alternatif menambah penghasilan bagi warga dengan lahan garapan terbatas ini.

2. Sabuk hijau DAS di bawah pengawasan mantri hutan. Mereka tidak efektif melakukan pengawasan karena beberapa hal, pertama mantri hutan seringkali tidak menempati rumah dinas yang disediakan dalam kawasan hutan, kedua karena keterbatasan personil tidak sebanding dengan area yang harus diawasai, ketiga karena tidak tegasnya para pelaksana di lapangan dalam menegakkan peraturan, keempat semakin hilangnya kesadaran masyarakat untuk tidak mengambil barang yang bukan hakknya, sebagai dampak dari budaya dan contoh koruptif dari para pembesar negara, kelima semakin beratnya tuntutan hidup karena perubahan pola hidup konsumerisme .

3. Perusakan dilakukan secara bertahap dan sistematis. Ranting-ranting dan dahan kecil dipotong untuk keperluan kayu bakar, kemudian sampah daun-daunan dibakar di pangkal pohon, lama kelamaan pohon akan kering dan mati, ketika itu baru pohon ditebang. Hal yang terlihat sederhana ini, akan membawa dampak luas ketika secara komunal dan terus menerus warga melakukan hal yang sama.

4. Program penghijauan dengan menyerahkan bibit tanaman kepada petani sangat tidak efektif. Karena tidak ada pengawasan dan evaluasi atas jalannya program. Kenyataan di lapangan bibit pohon tersebut bisa saja ditanam di lahan perorangan yang tidak termasuk dalam area penghijauan. Atau ketika ditanam di lahan penghijauan secara sengaja tidak diberikan perawatan yang memadai, sehingga akhirnya pohon tersebut pun mati. Akhirnya gerakan penghijauan yang dilakukan tak lebih hanya mekanisme menghambur-hamburkan anggaran dan bagi-bagi rejeki kepada para rekanan.

Bersambung ke bagian - 2

Tuesday, February 10, 2009

Mensiasati Keterbatasan

Permasalahan klasik dari pebisnis manapun adalah : Modal.
Begitu juga yang akan dialami oleh para pemain bisnis Porang/Iles-iles ketika akan memulai bisnis baik dengan cara budidaya mandiri maupun kemitraan.
Tetapi sebenarnya setiap masalah (sepertinya) diciptakan Allah, selalu disertai dengan alternatif solusi yang bisa diambil manusia. Tinggal bagaimana manusia menggunakan kemampuan berpikir, kebijaksanaan dan kesabarannya untuk mengambil langkah yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing.

Begitu juga dengan bisnis porang yang diprediksikan akan menjadi salah satu komoditi andalan agrobisnis. Ada masalah-masalah yang timbul ketika kita hendak memulai usaha ini (saya sendiri juga sempat mengalaminya - karenanya artikel ini sebenarnya lebih bersifat sharing dari yang saya alami)

Masalah yang pertama adalah : Lahan.
Porang memiliki kebutuhan lahan dengan spesifikasi tertentu. Teduh, terlindung dari panas, tidak becek, tidak berada di ketinggian, juga tidak terlalu asam. Jadi meski tidak membutuhkan perlakuan khusus, syarat-syarat lahan di atas perlu dipenuhi. Sampai saat ini pilihan lahan adalah area hutan milik perhutani / dephut. Jika ternyata di sekitar anda tidak ada hutan milik BUMN ini, jangan kecil hati, anda tidak harus memiliki lahan sendiri. Tipsnya, pasti ada warga yang memiliki lahan berupa kebun kayu yang 'biasanya' dibiarkan nganggur, tidak dimanfaatkan, karena menganggap satu-satunya penghasilan dari kebun kayu (jati, sengon, jabon, dll ) adalah kayu itu sendiri. Yang masa investnya cukup lama. Nah anda bisa menyarankan/menawarkan kepada pemilik lahan kebun tersebut untuk melakukan tumpangsari di lahan tersebut. Anda untung pemilik lahan untung. Malah keuntungan buat pemilik lahan bisa ganda. karena dengan ditanami, dirawat, dipupuk, lahan akan semakin subur,dan tanaman kayu sebagai tanaman utama akan memberikan hasil lebih cepat.

Masalah kedua adalah : bibit (modal pengadaan)
Memang masalah siklus investasi akan mengemuka ketika sudah menyinggung tentang bibit, dan modal pengadaan bibitnya. Karena investor besar pasti membandingkan dengan investasi di saham atau moda lain yang return value nya besar dan waktunya pendek. Makanya, jika anda tidak memiliki modal sendiri (yang cukup banyak) untuk membeli bibit siap panen (yang dalam 1 musim tanam sudah bisa panen), kenapa tidak membeli bibit yang perlu nunggu sekian musim untuk siap dipanen. Misalnya dengan bibit katak / bulbil. Memang secara return masih perlu paling tidak 3 tahun untuk panen dari bibit ini. Tetapi - ya itu tadi - kalau modal terbatas tidak ada salahnya untuk menunggu. Bulbil dengan harga 20 rb / kg berisi sekitar 100 biji. Selama 3 tahun (3 musim tanam) anda bisa menghasilkan 100 x 2 kg = 200 kg.. Dengan nilai jual 1500/kg lumayan lah.. Belum lagi ada potensi anda bisa menjual bibit umbi ketika umbi berusia 2 tahun. harganya jauh berada di atas harga jual umbi produksi.

Masalah ketiga adalah : biaya budidaya (pupuk, perawatan)
Jika anda bermitra dengan pemilik lahan, sebenarnya bisa win-win kalau anda menyediakan bibit, mereka merawat dan panenan anda beli. Tetapi seringkali di fase "meyakinkan" petani, anda perlu keluar modal sendiri. Jika tantangannya adalah anda harus merawat sendiri, bahkan harus menyewa lahan. Nah ini waktunya ada sedikit kreatif, terutama untuk penggunaan pupuk dan menyiangi lahan. Pupuk, sebaiknya gunakan sebanyak mungkin pupuk kandang. Kalau di desa, kadang kotoran ternak tidak terlalu banyak digunakan (karena hasilnya dianggap kurang "greng", tidak seperti kalau pakai pupuk kimia). Nah kesempatan anda untuk memanfaatkan pupuk ini. Begitu juga dengan penyiangan, sebenarnya lahan di bawah kebun kayu (jati dll) rumput tidak terlalu masalah, karena jarang memperoleh sinar matahari, rumput jarang tumbuh, sebaliknya ketika sinar matahari mencapai dasar lahan, tanah kering (pada musim kemarau).

Tuesday, December 30, 2008

Ciri-ciri Porang - Include Foto(s)

Dari hasil diskusi dengan teman-teman di belahan Nusantara, dan juga contoh umbi yang dikirimkan kepada saya, saya merasa perlu sharing yang saya ketahui tentang komoditas yang "terpendam" ini. (Maksudnya memang umbi tanaman ini terpendam di dalam tanah - juga bahwa potensi komoditas ini belum di blow-up dengan semestinya..)

Berikut saya sampaikan ciri-ciri fisik tanaman porang :



Batang tanaman Porang terdapat bercak-bercak putih - hijau. Secara visual memang tidak terlalu berbeda dengan Suweg / Iles-iles Putih/ Walur (hanya saja kalau suweg kadang cenderung bercak gelap). Jika diraba baru terasa kalau kulit batang suweg terasa kasar. (seperti pd gambar diatas )











Kira-kira mulai usia tanaman 2 bulan, porang mulai mengeluarkan bulbil, yaitu umbi generatif yang tumbuh pada pangkal daun. Ditandai dengan bintik gelap pada pangkal daun. Jumlah bulbil tergantung ruas percabangan daun.Besarnya bulbil mulai seujung pensil sampai sekepalan tangan anak kecil. Bulbil berwarna coklat gelap (gambar di atas)

          Umbi porang merupakan umbi tunggal, tidak ada titik tumbuh selain di bekas tumbuhnya batang. Daging umbi berwarna kuning cerah, dan seratnya halus. Getah porang menimbulkan rasa gatal di kulit. (gambar di atas)
          Semoga membantu.

          Monday, December 8, 2008

          Porang - Simbol Kegigihan Lokal

          Insight menjelang sholat iedul qurban 2008: 
          Seandainya ada organisasi pengusaha Indonesia yang merencanakan mengganti logo organisasi mereka. Dengan semangat saya menjagokan maskot baru : Porang !!


          Seharusnya tidak dianggap berlebihan. Seorang pengusaha, sebagaimana sering didoktrinkan, bukanlah diukur dari berapa kali mengalami keberhasilan, tetapi berapa kali mengalami kegagalan dan bangkit kembali. Dogma ini bukan hanya untuk terus memacu semagangat pengusaha dan calon pengusaha untuk pantang menyerah, tetapi juga menjadi pembeda antara pengusaha dan karyawan(nya). Dalam kondisi apapun, ketika seseorang yang memilih jalur wirausaha sebagai jalan hidupnya, harus siap untuk gagal dan lebih siap lagi untuk bangkit kembali, tanpa pernah menyerah. Pengusaha juga harus mencari terobosan-terobosan baru untuk dia muncul ke permukaan melampaui semua masalah dan kompetitor.


          Back to porang. Pernah saya sampaikan tentang umbi porang yang tetap bertahap meskipun bagian umbinya 'krowak' dan tetap tumbuh. Ternyata itu belum apa-apa, bukti terbaru mengenai porang ini sangat membanggakan. Ketika tidak semua batang tanaman porang tumbuh sempurna, ada satu batang yang tunas muncul dari umbinya mengarah ke bawah, bukan ke atas seperti tanaman kebanyakan. Rupanya dia kehilangan orientasi atas-bawah dan bingung untuk menemukan udara bebas di permukaan tanah. Tanpa sengaja kami menemukan kejanggalan tersebut dan mengangkat batang porang yang panjangnya lebih dari 40cm ke permukaan. Tetapi sayang, batang tersebut menjadi tertekuk dan cacat, hingga akhirnya mati dengan batang pohon masih menempel pada umbinya.


          Tak lama berselang, dari titik tumbuh umbi tersebut, keluar tunas berukuran sebesar batang yang sudah mati tadi, dan muncul menjadi tanaman baru. Subhanallah.. luar biasa..

          Monday, November 24, 2008

          Porang vs Suweg, Bukan saudara kembar..


          Meski judul di atas terlihat profokatif, bukan berarti saya bermaksud membenturkan kedua komoditi tersebut. Saya ingin memaparkan data data fisik yang menjadi ciri khas yang membedakan kedua tanaman ini. Beberapa kali saya temui rekan yang menganggap suweg sebagai porang yang bernilai ekonomis tinggi.

          Sampai saat ini saya cukup bisa memahami kenapa begitu sulit mengajak teman, saudara atau kenalan, apalagi yang tidak kenal - untuk beramai-ramai membudidayakan Porang di kebun mereka yang menganggur karena tidak bisa ditanami dengan tanaman palawija atau tanaman pangan yang membutuhkan sinar matahari langsung.
          Ada lagi alasan yang menyebabkan pemaparan saya mengenai potensi ekonomis porang kurang mereka minati (mungkin loh), adalah mereka menganggap suweg sama dengan Porang. Jadi mereka pikir tidak masuk akal jika makanan desa tersebut bisa laku dijual mahal.
          Satu lagi alasan keengganan menanam Porang adalah, umbi tanaman ini tidak bisa langsung dikonsumsi, sementara jika dibandingkan dengan suweg, dengan sekedar direbus saja sudah bisa dimakan sebagai pengganti nasi.

          Suweg bukan porang, begitu pula sebaliknya. Yang sering membingungkan adalah, karena nampak fisik luarnya 80% mirip. Tetapi meski begitu, kita masih memiliki kesempatan 20% untuk mengenali perbedaan diantara keduanya.

          1. Keduanya memiliki daun yang 100% sama. Bentuk menjari, pangkal daun 3, kadang daun berwarna hijau cenderung gelap, kadang juga hijau cerah. Tetapi daun porang masih bisa kita kenali dengan melihat titik pangkal daunnya, pada tempat itu akan terlihat bulatan kecil berwarna hija cerah hingga coklat sebagai bakal tumbuhnya bulbil, titik tersebut mulai terlihat sejak tanaman berusia kurang lebih 2 bulan. Titik bulbil tersebut sangat kentara, jadi tidak perlu khawatir salah. Lebih jelas lagi pada tanaman dengan usia lebih dari satu tahun, karena titik pertumbuhan bulbil lebih banyak lagi, pada pangkal daun yang bercabang menyebar di banyak tempat.

          2. Keduanya memiliki batang yang sama, berwarna hijau cerah dengan totol-totol putih. Tapi tunggu dulu, cobalah meraba batang tersebut dengan seksama. Tidak akan terlalu lama untuk memastikan bahwa salah satunya bertekstur kasar, sedang yang lainnya halus mulus. Batang yang halus inilah yang merupakan batang tanaman Porang, tidak akan salah.

          3. Ketika umbi sudah dipanen, lihatlah kondisi fisik luarnya. Jika umbi memiliki titik-titik percabangan umbi, seperti terlihat berupa benjolan ke samping, maka pastilah itu umbi suweg, karena umbi porang berupa umbi tunggal. Lalu irislah sedikit umbinya, semakin terlihat dengan jelas perbedaan umbinya. Karena umbi suweg berwarna putih kadang cenderung berwarna ungu atau merah jambu, sedangkan umbi porang kuning cerah (ingat bendera partai Golkar? tidak akan salah lagi, warnanya seperti itu). Tetapi akan ada sedikit masalah jika anda menemui umbi berwarna kuning cerah, tetapi ada benjolan titik tumbuh, di beberapa daerah menamai umbi semacam itu dengan nama walur, dan bisa dipastikan itu bukan porang, karena serat umbinya kasar, sedangkan porang serat umbinya halus nyaris tak terlihat, hanya berupa titik-titik saja.

          Baik, demikian paparan saya, semoga kita tidak salah lagi.

          Monday, November 10, 2008

          Pematang - Cara penanaman dengan double impact

          Karakter umbi Amorphophallus Muelleri / Onchophillus adalah berkembang secara horizontal, melebar ke samping. Umbi ini terbentuk pada pangkal batang semu pada akhir musim penghujan, semakin mengembang, seiring dengan mengeringnya batang semu tersebut, menyimpan seluruh sari pati makanan ke dalam umbi yang merupakan batang asli, untuk cadangan selama masa dormant di musim kemarau.

          Dengan cara penanaman konvensional (dan mungkin pernah saya utarakan di bagian lain blog ini juga), akan ditemui kesulitan untuk menemukan umbi yang batang semunya sudah mati. Karena meski tanah sedikit terangkat (membentuk gundukan), bagi orang-orang yang belum terbiasa akan kesulitan membedakannya dengan kondisi tanah di sekitar umbi. Jika tanah digali dengan cangkul secara sembarangan / acak, bisa berpotensi menyebabkan umbi tercangkul. Dimana jika umbi tidak utuh lagi, masa simpan akan lebih pendek.

          Untuk mengantisipasi hal ini, penanaman iles-iles bisa dilakukan dengan menggunakan pematang, yaitu media tanam dibuat lebih tinggi dari tanah di sekitarnya. Jika penanaman dilakukan di lahan produksi dengan jarak tanam yang disarankan sebesar 50 cm x 100 cm, dimana 100 cm adalah jarak antar puncak pematang, dan lebar pematang mencapai 50 cm, dipisahkan parit sedalam kurang lebih 40 cm. Agar tunas porang yang tumbuh cepat mencapai permukaan tanah, kedalaman penanaman disarankan sebesar 3 - 4 kali ketebalan umbi. Misalnya ketebalan umbi / bibit 5 cm, maka bibit ditanam maksimal sedalam 20 cm. Karena tunas yang tidak segera bisa mencapai permukaan, bisa beresiko membusuk di dalam tanah.

          Dengan cara ini, ada dua keuntungan yang bisa diperoleh. Pertama memudahkan untuk mengidentifikasi titik tanam dan mempermudah pemanenan. Kedua, parit akan membantu air lancar mengalir, menghindarkan umbi membusuk sebelum tumbuh, terlebih pada daerah dengan curah hujan yang tinggi.

          Metoda ini, selain cocok untuk lahan produksi, juga bisa diterapkan pada lahan persemaian. Hanya tinggal melakukan pengaturan jarak dan ukuran pematang, juga kedalaman lobang tanam.

          Saturday, November 1, 2008

          Biji Porang - Alternatif Memperbanyak Bibit



          Pada awal tanaman porang berbunga, memang mengesankan, karena keindahan tampilannya. Sayang keindahan tersebut tak bertahan lama, hanya selang sekian hari setelah bunga mekar sempurna, maka segera kuntumnya kering dan layu, berganti dengan bonggol buah dengan biji-biji kecilnya.

          Yang perlu diperhatikan adalah jika tanaman Porang kita banyak yang berbunga, sebenarnya ada sedikit kerugian pada hasil umbi tanaman yang berbunga tersebut, yaitu perkembangan umbinya tidak bisa optimal, karena makanan yang dihasilkan dikonversi menjadi bunga, kemudian buah dan biji.

          Satu buah porang bisa menghasilkan kurang lebih 250 biji, tapi hanya sekitar 40%nya saja yang bisa tumbuh, tergantung kondisi lingkungan dan tingkat kematangan buah. Cukup menggiurkan untuk perbanyakan bibit. Tetapi tanaman porang baru mulai berbunga ketika sudah menginjak usia cukup "dewasa", yaitu 3 tahun atau lebih, padahal kita berharap Porang sudah bisa dipanen pada usia maksimal 2 tahun, dengan mengoptimalkan pemupukan.

          Berbekal beberapa tangkai bunga Porang hadiah dari Pak Agung di Trenggalek, saya coba mengikuti petunjuk beliau untuk menyemaikan biji porang.


          Biarkan buah dan biji melekat di tangkainya. Sampai ketika biji sudah rontok dengan sendirinya, artinya cukup matang untuk tumbuh pada musim berikut.


          Siapkan media tanam, bisa berupa pasir halus, atau tanah. Harus terlindung dari sinar matahari langsung, tetapi harus dipastikan air hujan bisa membasahi media tanam tersebut. Sebarkan biji-biji secara merata,a rtinya tidak bertumpuk-tumpuk, dengan harapan kalau mereka tumbuh tidak saling bertabrakan.


          Biarkan saja bibit tersebut, ketika musim hujan tiba dengan sendirinya tunas-tunas baru akan bermunculan. Ketika semaian sudah cukup besar, tinggi kira-kira 10 - 15 cm, waktunya untuk memindahkan mereka ke lokasi tanam yang sesungguhnya. Yang perlu dicatat, umbi panenan dari semaian biji, belum cukup besar untuk dipanen, karenanya, metode ini hanya untuk memperbanyak bibit pada musim berikutnya.

          Monday, October 27, 2008

          Exotic Petals - Kembang Indah di Kebun Jati

          Kebun jati menjadi perhatian utama saya, apalagi ketika hujan sudah semakin rutin berkunjung. Berharap-harap cemas akan perkembangan tanaman iles-iles kuning / porang yang benihnya saya tebarkan dengan penuh pengharapan.
          Yang saya temukan adalah kejutan...

          Diawali dengan tongolan "kuku bima" sebesar jempol anak saya.
          Selanjutnya makin panjang menjulang..


          Hingga ujung "tower" terbelah, membentuk bakal helaian bunga..



          Mulai terbentuk bunga, dari kuncup hingga perlahan-lahan mengembang..




          Dan akhirnya terbentuk bunga sempurna. Dalam waktu dekat Insya Allah bisa kita nikmati kebun bunga di kebun jati saya..padahal kita semua tahu, saya nanamnya porang.. He he..

          Tuesday, October 21, 2008

          Membangun Kapasitas, Merajut Trust

          Sungguh menyenangkan, dari sekian bulan tulisan-tulisan saya publikasikan melalui blog yang sekadarnya ini, telah memperoleh respon dari para praktisi bisnis terhadap rangkaian tulisan saya. Beberapa orang menyatakan ketertarikannya dengan sharing hal-hal hebat - yang belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

          Seorang bapak di tangerang, menyatakan telah membina petani di daerah Serang dan Purwodadi. Bapak yang lain, menelepon saya malam-malam menyatakan memiliki binaan di daerah Kendal, yang beralih ke Porang karena lahan petani binaannya kian hari semakin tertutup naungan daun pohon tegakan. Ada juga yang mengontak saya dari Banyuwangi, Gresik, Jember, dan lain-lain.

          Yang cukup membanggakan adalah, rasanya potensi yang selama ini seakan-akan tenggelam, karena simpang-siur informasi serapan pasar dan jalur pemasaran, ketidak tahuan atas jenis yang diperdagangkan, telah mengerucut dan semoga bisa menjadi solid dengan informasi yang valid, beserta data pendukung, dan fakta di lapangan. Kontak-kontak yang saya miliki akan menjadi basis jaringan produksi, dengan kapasitas yang jauh lebih besar, dibanding dengan jika berjalan sendiri-sendiri.

          Informasi-informasi yang disajikan dalam blog ini, diharapkan bisa memberikan gambaran yang lebih pasti, bahwa pasar porang benar-benar ada. Untuk menghindarkan para pemain baru dari permainan harga para spekulan - yang seringkali sama sekali tidak mengenali produk yang mereka minta - tetapi permintaan tersebut akan menciptakan demand semu yang beresiko pada kenaikan harga yang gila-gilaan pada level broker, yang ujungnya bsia mematikan pasar sendiri.

          Perlu diiingat juga, ketika kapasitas produksi telah berhasil kita tingkatkan, ada masanya ketika pasar akan menjadi lebih selektif - tentunya pasar akan memilih pasokan dengan kualitas yang lebih standard dan konsisten. Karena itu, mulai dari sekarang senyampang budidaya baru dimulai, mari kita mulai mempersiapkan kualitas terbaik yang bisa kita berikan. Dengan cara komitmen menentukan parameter-parameter produksi, dan konsisten dalam implementasinya.

          Saturday, October 18, 2008

          Porang, Mighty but Simple

          Air hujan dan musim penghujan menjadi idaman bagi petani porang. Karena menjadi penanda dimulainya harapan baru, dimana bibit porang bersemi. Diawali dengan tunas memerah pada umbi porang, lalu batang tunggal porang menembus permukaan tanah dengan helaian daunnya yang menguncup. Dan selang beberapa hari, mengembanglah tajuk daun porang, membentuk batang yang sempurna.

          Karena baru mulai menanam tahun ini, saya benar-benar menghayati betapa exciting nya saya sebagai petani mengikuti pertumbuhan 'bayi' yang baru tumbuh ini. Setiap hari helaian daun saya belai, mencari-cari jika hal-hal baru muncul. atau sekedar mengelap permukaannya dari debu atau kotoran yang menempel, konyol memang, tapi rasa yang membuncah tidak bisa diabaikan.

          Dari pengalaman, sejauh ini porang adalah tanaman yang sederhana. Karena sama sekali tidak memerlukan perawatan, bahkan pemupukan adalah hal yang mewah bagi dia. Dia juga tanaman yang perkasa, karena - sejauh ini - belum diketahui hama yang bisa menyebabkan porang tidak sehat hingga mati. Dalam habitat aslinya - di hutan-hutan - porang tumbuh liar tanpa sentuhan pupuk ataupun insektisida.

          Tetapi seperti kita tahu, pemberian pupuk sangat banyak bermanfaat untuk mempercepat perkembangan porang, terutama mensiasati siklus hidup porang yang rata-rata 6 bulanan. Sehingga masa panen porang yang secara alamiah baru tercapai pada tahun ketiga dengan berat individual umbi melebihi 2 kg, bisa dipercepat.

          Thursday, October 9, 2008

          Zapp..Bibit Porang pun Bersemi..


          Hujan yang mengguyur Wonogiri dan sekitarnya sudah semakin sering, curah hujan pun lumayan tinggi. Bisa dipastikan musim hujan sudah dimulai, jadi anda yang punya rekening langganan banjir, silahkan bersiap-siap perahu karet dan truck kontainer kalau sewaktu-waktu harus pindahan. Meski di sisi lain, hujan adalah berkah dan selalu diharap-harap oleh petani seperti saya.
          Meski sebenarnya tanda-tanda hujan sudah mulai terlihat sejak pertengahan bulan agustus dengan tunas umbi porang yang berwarna kemerah-merahan, ada yang bikin saya surprise awal minggu ini.
          Sewaktu menanam porang di kebun jati tempo hari, ada sebagian umbi katak yang disimpan dan sama ibu saya dilempar ke pot bunga. Maksudnya ditanam di rumah untuk dilihat perkembangannya sewaktu-waktu, tentu saja berbeda dengan kalau melihat ke kebun, karena tidak bisa setiap saat ngechek.
          Nah, karena kapan dan dimana umbi katak tersebut dilempar, saya tidak tahu dan tidak memperhatikan perkembagannya, justru ibu saya yang memberi tahu, tanamanmu sudah tumbuh..
          Dan di pot bunga, jadi satu dengan tanaman yang lain, sebatang tanaman porang tegak bersemi, setinggi kurang lebih 25 cm, helaian daunnya masih belum membuka dengan sempurna. Sayang waktu itu saya tidak membawa kamera - sekedar mengabadikan pertumbuhannya.
          Baru tadi pagi, saya sempat memotretnya, ketika daunnya sudah terbuka , sekilas seperti daun ganja.. he he..
          Saya juga belum ke kebun, untuk melihat apakah bibit yang di sana sudah tumbuh. Semoga saja..